Cerpen Inspiratif "2014 Kuingin Kembali"

2014 Kuingin Kembali


Siapa yang tidak mau memiliki anak secerdas dan brilian Kevin. Anak dari seorang wanita paruh baya bernama Nunir yang notabene hanya pedagang sembako di kios kecil pinggiran kota. Ayahnya telah tiada 4 tahun lalu, Nunir membesarkan putra satu-satunya seorang diri membanting tulang. Pintar memang pintar, prestasi akademik telah diraih Kevin satu persatu. Sayangnya, ia sangat anti sosial, sekalipun ia keluar rumah hanya jika ke sekolah dan disuruh ibunya membeli keperluan makan. Sekarang usianya genap 17 tahun, ia bermimpi untuk menemukan alat yang akan membantu peradaban manusia selanjutnya.
Cerpen Inspiratif "2014 Kuingin Kembali"
"Vin, makan dulu Nak!" Sahut wanita paruh baya dari dalam dapur.
"Iya, Mak bentar aku lagi ada kerjaan." Balas Kevin dari loteng rumahnya yang telap disulap hingga nampak mirip laboratorium. Disitulah hari-hari remaja yang bernama lengkap Kevin Atmojo dihabiskan bersama kabel-kabel dan bahan kimia sampai-sampai jari-jemarinya lincah merakit alat-alat elektronik sederhana.
Memang kali ini Kevin sangat sibuk dengan peroyek termuktahirnya, yaitu sebuah pendingin ruangan berbahan dasar air. Siang dan malam ia geluti kotak hitam itu, menyambung sirkuit demi sirkuit, hingga kadang ia lupa kapan waktu makan tiba. Tujuannya sederhana, yaitu untuk membuat pendingin ruangan yang ramah lingkungan dan hemat biaya, mengingat di kotanya cuaca sangat-sangatlah panas.
***
Hari ini tanggal 18 Mei 2014 adalah hari yang bahagia bagi Kevin, kini usianya genap 18 tahun dan penemuannya ini telah rampung. Semua kabel telah tertata rapi, sisa mencolokkannya ke listrik agar teraliri elektron. Saatnya ia mencoba kotak yang ia namai "Esbox" dengan menekan tombol power dibagian belakang kotak itu. Jrengg... Suasana memang berubah seketika, suhu loteng menjadi sejuk seperti suasana pegunungan Himalaya.
"Ini akan jadi penemuan hebat abad ini. Akan kutunjukkan pada Emak" Gumam Kevin dalam hatinya.
Berangkatlah ia ke kios dan merenreng ibunya menuju loteng rumah. Dengan garis senyum yang terpancar dari pipinya ia menunjukkan kerja kerasnya selama ini. Nunir sang ibu hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar penjelasan anaknya. Kini saatnya Kevin menunjukkan cara kerja dari Esbox miliknya. Seperti yang dilakukan pada saat percobaan pertama, ia mencolokkan ke listrik lalu menekan tombol power dibelakang Esbox. Namun, kali ini tidak terjadi apa-apa, muka Kevin mulai bergelimang keringat karena agak malu kepada emak yang terlihat senyum-senyum melihat tingkah anaknya. Pasti ada yang salah Kevin yakin itu, ia mengecek semua sambungan demi sambungan untuk mencari celah kesalahan Esboxnya. Ahaa ternyata ada kabel merah yang terlepas dari sirkuitnya. Segeranya ia pasang kabel itu, lalu mencoba ulang dengan menekan tombol power dengan hati-hati dan perasaan mengharap agar emaknya tidak kecewa. Benar sekali, ruangan terasa dingin seketika. Nunir sangat bangga melihat apa yang dilakukan anaknya.
Kebahagian itu sirna seketika lenyap bersama tubuh Kevin yang terisap masuk kedalam Esbox.
"Aahh... Tolong Mak" Teriak Kevin dengan sangat keras di mana tubuhnya hilang secara perlahan.
"Vin.. Pegang tangan Emak, Nak.. Cepat...!" Sergah Nunir dengan muka panik dan raut wajah yang tampak sangat sedih.
Nunir masih sempat memegang tangan anaknya, namun nasi telah hancur menjadi bubur. Tak ada lagi raga Kevin di tempat itu. Dengan perasaan penuh keibuan Nunir memukul-mukul kotak itu berharap Kevin akan keluar dari kotak itu.
"Emak pasti akan mengeluarkanmu, Nak. Pasti!" Nunir saat ini berada dalam sakit kepala yang berat syarafnya seakan putus, ia merasa sangat bersalah kepada almarhum suaminya, Nunir sangat ingat janjinya akan membesarkan Kevin dan menjadikannya orang sukses. Seketika itu ia pingsan dan tibalah para tetangga yang tersentak mendengar teriakan keras dari rumah Nunir, dikiranya ada pencuri yang masuk kerumah Nunir.
***
Lain halnya dengan Kevin, ia terbangun dan mengelus kedua kelopak matanya. Ternyata ia masih hidup namun di suasana yang sangat-sangat berbeda. Dilihatnya ke sekeliling hanya dipenuhi kendaraan baja lalu-lalang, gedung besi yang kinclong tumbuh di setiap sudut, gas nitrogen keluar dari bagian belakang kendaraang. Ini seperti mimpi, ia melihat orang-orang bercakap-cakap dengan mesin robot. Di sana robot di sini robot dimana-mana hanya robot baja yang ada. Mereka terlihat fasih dan akrab bercakap dengan manusia.
"Beep.. Beep.. Boop.. Hi where are you from, Man?" Sebuah robot tiba-tiba menyentuh Kevin dari belakang.
"I'm from Indonesia, where is it?" Dijawabnya dengan kaget dan agak ketakutan melihat wajah robot yang kelihatan tidak bersahabat dan seakan tidak terima kehadiran Kevin menganggapnya sebagai orang asing.
"Are you dream? Here is Indonesia, Man!" Balas si robot dengan sigap.
"Hah.." Kevin tersentak dan nampak seperti orang kebingungan, ia merasa sedang ada di dalam mimipi, di cubitnya pipi dan tangannya ternyata sakit. "Oh ini adalah nyata, kenapa semua ini terjadi, dimana aku sekarang?" Gumamnya dalam hati.
"Beep.. Beep.. Boop.. You're looking very tired, may you need to rest." Sapa robot dengan muka yang mulai perhatian.
"Yes, thanks. Do you can speak Indonesian?" Tanya Kevin dengan raut muka yang mulai agak lebih baik.
"No, I can't. But my boss may help you, if you not mind i will meet you with my boss, he is know about indonesian pass languange." Robot menawarkan Kevin untuk bertemu pemiliknya.
"OK, I will." Jawab Kevin seraya ikut dengan si robot menuju salah satu gedung baja di kota itu.
***
"Boss, He is Kevin. I found him on the way near of we office. He said to me about him from Indonesia and know indonesian languange." Kata si robot, kepada seorang laki-laki tua berjanggut putih dengan jas dan pakain yang elegan.
"Hi Kevin, is that right? I'm suprised to hear it." Tatap si Kakek kepada Kevin
"Yes, Sir."
"Bot Three, please go now, i will speak with Kevin now!" Sergah si Kakek pada si robot yang ternyata namanya adalah Bot There. Bot There keluar dan meninggalkan si Kakek dan Kevin.
"Kevin, bagaimana kamu bisa ada di sini, dari tingkahmu aku melihat seperti orang Indonesia abad 20?" Tanya kakek dengan bahasa Indonesia yang kurang fasih dan sangat ane kedengaran bagi Kevin.
"Hah.. Memangnya sekarang tahun berapa, Pak?" Kevin kebingungan dengan hati bertanya-tanya.
"Sekarang tahun 2222, kenapa harus kaget Kevin?"
"Aku berasal dari tahun 2014, aku sampai ke sini gara-gara percobaan ku yang gagal. Tiba-tiba aku terisap masuk kelubang hitam dan terdampar di sebuah jalan baja." Jelas Kevin dengan terluntah-luntah.
Kakek merasa kaget dengan penejelasan itu bercampur kasihan melihat Kevin lalu diangkatnya Kevin menjadi anak angkatnya. Apalagi Kevin pandai berbahasa Indonesia. Dengan keadaan yang tidak jelas, Kevin menerima tawaran si Kakek.
Tak dirasa telah genap sebulan Kevin tinggal di sana, hidupnya sangat senang. Seperti mimpi-mimpinya dulu, setiap hari bekerja dengan robot. Robot-robot sangat patuh dan disiplin pada manusia. Yang ia heran kenapa setiap manusia dan robot di kala itu hanya berbahasa Inggris, tak sekalipun ia dengar orang berbahasa Indonesia selain sang Kakek. Hingga muncullah dalam angan Kevin untuk menanyakan itu pada orang tua angkatnya.
"Kek, kenapa orang-orang di sini tidak ada yang berbahasa Indonesia, semuanya hanya menggunakan bahasa Inggris?" Tanya Kevin penasaran.
"Bahasa Indonesia saat ini adalah bahasa yang sangat langkah, tidak lebih dari seratus orang termasuk aku yang masih bisa berbahasa Indonesia itupun tidak fasih dan sebaik dirimu. Kata kakek buyutku anak muda pada abad sebelumnya mulai meninggalkan bahasa Indonesia, mereka lebih tertarik pada Bahasa Asing. Dari tahun ke tahun bahasa Indonesia semakin digeser hingga saat ini. Orang-orang yang pandai berbahasa Indonesia dianggap orang penting oleh negara. Seringkali ada orang yang ingin belajar bahasa Indonesia, namun lidahnya sudah tidak peka, para orang yang bisa berbahasa Indonesia sangat sulit mengajari mereka. Budaya-budaya orang dulu telah tergerus zaman, tergantikan oleh teknologi baja. Sekarang Indonesia hanya tersisa tiga pulau besar, sisanya habis dilahap alam akibat ulah manusia pada zaman dulu yang tidak menghargai alam, mereka lupa dengan diri mereka. Andai aku hidup pada zamanmu nak, aku ingin memperbaiki itu semua."
Kevin merasa sangat tersentuh mendegar penjelasan itu, ia mengaitkan dengan kehidupan teman-temannya di sekolah, yang memang kebanyakan lebih tertarik pada bahasa Asing seperti bahasa Inggris, bahasa Korea, dan Bahasa Jepang. Jika belajar bahasa Indonesia mereka seperti molor dan tidak tertarik sama sekali. Tidak pernah ia bayangkan jika nantinya bahasa Indonesia adalah bahasa penting dan banyak dicari orang-orang.
***
Telah hampir tiga bulan Kevin bekerja pada perusahaan milik Kakek, ia tampak sangat bahagia di sana semua fasilitas lengkap dan tersedia. Ada satu hal yang mengganjal Kevin, iya seperti agak lupa tapi memang ada orang yang ingin ia ingat tapi sulit untuk diingatnya. Hingga pada saat ia mencoba meneliti pakaian yang pertama kali ia pakai untuk sampai ke abad 22 ditemukannya dompetnya dan foto seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Nunir, emaknya. Seketika ia menitihkan air mata, mengingat emak Nunir. Ia bertanya-tanya bagaimana keadaan emaknya.
Benar saja, saat ini Nunir yang berada di sisi lain yang sangat jauh dari kehidupan Kevin. Hari-harinya penuh lamunan perihal anaknya. Kini kiosnya semakin menciut, tiada hari tanpa air mata. Semangatnya seakan pupus, seakan tidak ada gunanya hidup. Seringkali Nunir berpikiran untuk bunuh diri. Tiap hari ia lantunkan doa kepada Yang Kuasa untuk keselamatan Anaknya.
Kini Kevin dilema, dan kebingungan. Ia sudah sangat senang tinggal di sini yang bagaikan dunia mimpinya sejak kecil, namun tak tega akan emaknya. Ia rindu akan kehidupannya bersama emak ingin ia kembali ke dalam dekapan emaknya. Sakit kepala Kevin memikirkan hal itu.
***
Keputusan telah bulat, hatinya telah kukuh untuk kembali ke masanya. Ia berniat menyampaikan ini pada Kakek angkatnya yang telah sangat membantunya selama ini.
"Kek, aku ingin kembali ke masa lalu. Aku rindu pada Emakku."
"Kenapa Vin, kamu sudah tinggal nyaman di sini dan membantuku selama ini?"
"Terima kasih, Kek. Tapi aku harus bertemu Emak, aku sangat kasihan mengingatnya sekarang sebatang kara."
"Ya, padahal aku sangat berharap kau tinggal bersamaku menjalan semua perusahaanku untuk selamanya sebagai pewaris tahta tunggal perusahaan. Lalu bagaimana caramu untuk kembali?
"Terima kasih banyak, Kek. Sepertinya aku memang harus kembali ini bukan zamanku. Itu juga yang saat ini aku bingung, bagaimana untuk kembali. Tidak mungkin aku menciptakan alat yang seperti dulu lagi yang mengirim ku ke sini."
"Kalau memang itu maumu, aku memiliki sebuah alat teleport yang telah aku buat bertahun-tahun dan hanya bisa digunakan untuk sekali. Aku berpikir untuk menggunakan alat itu ketika ada hal yang sangat penting. Tapi tak apalah, kau telah ku anggap cucu sendiri Kevin. Ikutlah denganku!"
Kevin beranjak mengikuti Kakek ke sebuah ruang rahasia, disana terdapat sebuah kotak ukuran orang dewasa. Hampir mirip dengan yang dibuat Kevin.
"Kevin, masuklah aku akan mengirimmu ke abad 20!"
Kevin tak segera masuk kedalam kotak itu, ia memeluk erat Kakek angkatnya dan Bot There yang telah berjasa menolong dia selama ini.
"Kini saatnya aku pergi, selamat tinggal Kek. Good bye Bot There." Kevin melangkah perlahan masuk kedalam kotak itu sambil terseduh bercampur bahagia akan ketemu dengan Emaknya. Begitu juga dengan Kakek dan Bot Three, mereka terlihat sangat sedih akan hal ini. Mereka telah berasumsi bahwa Kevin adalah keluarganya. Kini tubuh Kevin sepenuhnya telah masuk ke dalam kotak, saatnya Kakek mengatur mesin itu agar segera bekerja. Sebelum itu Kakek menitip pesan ke Kevin.
"Vin jika telah sampai, sampaikan salamku pada emakmu. Beritahu penduduk bumi abad 20 agar tidak menyianyiakan bahasa Indonesia. Jadilah anak yang baik, jaga budayamu agar cucu-cucumu tetap menikmatinya kelak." Pesan Kakek sambil menitipkan dua koin emas murni ke Kevin.
Tak genap sekejap Kakek mengatur kontrol alat itu, kini Kevin sudah kembali ke zamannya.
***
Kevin berada di pintu belakang kios emak dengan jas kulit laksana seorang bos penting, ia masuk secara perlahan dan memegang pundak Emak Nunir yang tengah duduk melamun. Seketika emak terkejut tak karuan, dan lebih terkejut lagi melihat wajah siapa yang ada di balakangnya.
"Vin.. Anakku darimana saja kamu, Nak? Apa ini benar kamu? Apa aku bermimpi?" Heran Emak Nunir suara paruhnya sudah mulai hilang berganti bahagia, raut wajahnya sudah cerah kembali, dukanya terlah berganti suka.
"Iya Mak, ini aku Kevin anak Emak. Emak tidak mimpi kok." Kata Kevin sambil tersenyum dan segera memeluk erat emaknya.
Bagaimanapun Kevin lebih memilih bersama Emaknya daripada hidup mewah. Ia tidak ingin menyia-nyiakan perjuangan emak membesarkannya dengan susah payah membanting tulang. Ia tidak ingin menjadi anak durhaka kepada orang tua. Meskipun dia sudah pasti mendapat kehidupan yang sangat mumpuni bersama Kakek dan Bot There di abad 22, Kevin akan tetap memilih untuk kembali ke dekapan emaknya. Kini semenjak kejadian itu Kevin berubah drastis, ia sadar akan pentingnya menghargai budaya, melestarikan alam, serta satu hal yang menjadi pelajaran penting yang ia dapat adalah mengagumi bahasa sendiri daripada bahasa lain, ya bahasa kita bahasa Indonesia. 



Karya : Muh. Ilmi Ikhsan Sabur

ads
Bagi ke FB
Bagi ke G+

Related : Cerpen Inspiratif "2014 Kuingin Kembali"

1 komentar:

  1. :'( Terharu. Aku akan lebih mencintai bahasa, indonesia.. :D

    BalasHapus

Berkomentarlah sesuai topik,tidak mengandung unsur pertikaian, perpecahan, dan SARA.

Komentar dengan link hidup hanya berupa link nofollow!