Kelanjutan dan Akhir Perlawanan Pangeran Antasari dalam Perang Banjar

Penembahan Amiruddin Kalifatullah Mukminin merupakan gelar yang diberikan kepada Pangeran Antasari oleh para pengikutnya sebagai pejuang dan pemimpin tertinggi agam islam. Perjuangan Pangeran Antasari dalam Perang Banjar dalam mengusir Belanda terus dilakukan hingga akhir hayatnya. Lalu bagaimana kelanjutan perlawanan Pangeran Antasari dalam Perang Banjar?

ads

Kelanjutan dan Akhir Perlawanan Pangeran Antasari dalam Perang Banjar

Biografi Pangeran Antasari

Pangeran Antasari
Pangeran Antasari lahir di Kayu Tangi, Banjar, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Sebagai seorang pangeran, ia merasa prihatin menyaksikan kesultanan Banjar yang ricuh karena campur tangan Belanda pada kesultanan semakin besar. Gerakan-gerakan rakyat timbul di pedalaman Banjar. Pangeran Antasari diutus menyelidiki gerakan-gerakan rakyat yang sedang bergolak. 

Pangeran Antasari meninggal di Bayan Begok, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah, 11 Oktober 1862 pada umur 53 tahun. Ia meninggal karena penyakit paru-paru dan cacar di pedalaman sungai Barito, Kalimantan Tengah. Kerangkanya dipindahkan ke Banjarmasin dan dimakamkan kembali di Taman Makam Perang Banjar Banjarmasin Utara, Banjarmasin. Perjuangan beliau dilanjutkan oleh puteranya Sultan Muhammad Seman dan mangkubumi Panembahan Muda (Pangeran Muhammad Said) serta cucunya Pangeran Perbatasari (Sultan Muda) dan Ratu Zaleha. 

Pada 14 Maret 1862, beliau dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja. 

Latar Belakang Perang Bandar

Perang Banjar merupakan perlawanan terhadap kolonial Belanda yang terjadi di Kesultanan Banjar yang meliputi wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Perang ini berlangsung antara tahun 1859 - 1905. Konflik ini bermula sejak Belanda memeroleh hak monopoli dari Kesultanan Banjar. Belanda yang juga ikut campur dalam urusan kerajaan, mengakibatkan bertambah runyamnya masalah. 

Penyebab Perang Banjar dalam Kesultanan Banjarmasin

Penyebab Umum :
- Belanda yang merajela di pengusahaan perkebunan dan pertambangan di Kalimantan Selatan.
- Belanda bermaksud untuk menguasai Kalimantan Selatan.
- Belanda terlalu ikut campur tangan dengan urusan kerajaan.

Penyebab Khusus :
- Pangeran Hidayatullah yang seharusnya menjadi Sultan Banjar ditangguhkan oleh Belanda kesultanannya yang kemudian menganggap Tamjidullah sebagai sultan yang sebenarnya tidak berhak menjadi sultan. Setelah mencopot Tamjidullah dari kursi sultan, Belanda membubarkan Kesultanan Banjar.

Kronologi Singkat Perang Banjar

Pangeran Hidayatullah yang ditangguhkan kesultanannya oleh Belanda semakin geram melihat sikap Belanda yang kemudian mengangkat Tamjidullah sebagai sultan. Tamjidullah tidaklah disenangi oleh masyarakat Banjar, akibatnya kekacaun terjadi. Para tokoh-tokoh seperti Pangeran Antasari dan Aling serta para punggawa Kesultanan Banjar yang tidak suka dengan Belanda mendorong terjadinya perang untuk mengusir Belanda dari tanah Banjar dan mengembalikan Kesultanan Banjar ke Pangeran Hidayatullah.

Pangeran Hidayatullah, Pangeran Antasari dan para tokoh besar lainnya melakukan gerilya untuk menghancurkan pos-pos Belanda. Mereka tidak pernah menyerah ataupun mau menerima imbalan agar menghentikan perang. Perang ini berkobar selama beberapa dekade, hingga Pangeran Hidayatullah tertangkap saat menyerbu pos Belanda di Barabai bersama dengan Demang Lehman, ia lalu diasingkan ke Cianjur bersama anggota keluarganya yang ikut bergerilya.

Sementara Pangeran Antasari terus melanjutkan bergerilya hingga akhir perlawanannya, bagaimanakah akhir perlawanan Pangeran Antasari?

Akhir Perlawanan Pangeran Antasari

Setelah Sultan Hidayatullah ditipu belanda dengan terlebih dahulu menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran Hidayatullah) dan kemudian diasingkan ke Cianjur, maka perjuangan rakyat Banjar dilanjutkan pula oleh Pangeran Antasari. Sebagai salah satu pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai sepupu dari pewaris kesultanan Banjar. 

Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Banjar bagian utara (Muara Teweh dan sekitarnya), maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah.

Dengan seruan : "Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah!"

Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun. Menjelang wafatnya, beliau terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya setelah terjadinya pertempuran di bawah kaki Bukit Bagantung, Tundakan.


Bagi ke FB
Bagi ke G+
Tags :

Related : Kelanjutan dan Akhir Perlawanan Pangeran Antasari dalam Perang Banjar

0 komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah sesuai topik,tidak mengandung unsur pertikaian, perpecahan, dan SARA.

Komentar dengan link hidup hanya berupa link nofollow!